SEKILAS HUMOR.....:)
HUMOR SUFI

MENJEMUR BAJU
Written by Ali Bin Syeh Abubakar
Nasrudin sedang mengembara cukup jauh ketika ia sampai di sebuah kampungyang sangat kekurangan air. Menyambut Nasrudin, beberapa pendudukmengeluh, "Sudah enam bulan tidak turun hujan di tempat ini, ya Mullah.Tanaman-tanaman mati. Air persediaan kami tinggan beberapa kantong lagi.Tolonglah kami. Berdoalah meminta hujan."Nasrudin mau menolong mereka. Tetapi ia minta dulu seember air. Makadatanglah setiap kepala keluarga membawa air terakhir yang mereka miliki.Total terkumpul hanya setengah ember air.Nasrudin melepas pakaiannya yang kotor, dan dengan air itu, Nasrudin mulai mencucinya. Penduduk kampung terkejut, "Mullah ! Itu air terakhir kami, untuk minum anak-anak kami!" Di tengah kegaduhan, dengan tenang Nasrudin mengangkat bajunya, dan menjemurnya. Pada saat itu, terdengar guntur dahsyat, yang disusul hujan lebat. Penduduk lupa akan marahnya, dan mereka berteriak gembira. "Bajuku hanya satu ini," kata Nasrudin di tengah hujan dan teriakan penduduk, "Bila aku menjemurnya, pasti hujan turun deras!" [Catatan Koen: Trik ini sering digunakan oleh kaum sufi -- menggunakan keterjepitan-keterjepitan untuk hal-hal yang berbeda.]
Ayam dan anjing
Written by Abdul Kadir
Ada seekor ayam yang berteman dengan raja anjing. pada suatu malam ayam tersebut berkokok dengan kerasnya sampai terdengar oleh serigala hutan yang lapar. diikuti suara kokok ayam tersebut sampai ketempat si ayam. ternyata si ayam berada diatas pohon kemudian si srigala berkata kepada si ayam: srigala : Ayam ayo turun kita sholat berjamaah ayam : boleh tapi kamu bangunkan dulu temanku yang tidur di sebelah kemudian dilihatnya di sebelah ternyata ada anjing yang besar, kemudian si serigala berkata "waduh ternyata ada pengawalnya ini ayam". akhirnya di tinggalkannya si ayam tersebut. kemudian si ayam berkata: ayam : lho srigala mau kemana katanya mau sholat berjamaah srigala : ana batal wudhu.
Bagimana yang tak Bagaimana
Rabi'ah al Adawiyah
"Apakah engkau ingin kita menikah?" tanya Hasan kepada Rabiah.
"Ikatan pernikahan hanya berlaku bagi mereka yang memiliki keberadaan," jawab Rabi'ah. "Keberadaanku telah menghilang, karena aku telah menjadi tiada dan hanya eksis melalui Nya. Aku milikNya sepenuhnya. Aku hidup di dalam naungan kendali-Nya. Engkau harus melamarku pada-Nya, bukan padaku."
"Bagaimana engkau bisa menyingkap rahasia ini Rabi'ah", tanya Hasan.
"Aku kehilangan segala hal yang ditemukan di dalam-Nya," jawab Rabi'ah.
"Bagaimana engkan mengenal-Nya," tanya Hasan.
"Engkau mengenal 'bagaimana'; aku mengenal 'tak berbagaimana'," Jawab Rabi'ah.
***
Membalut dengan Keluh Kesah
Rabi'ah al Adawiyah
Suatu kali, Rabi'ah melihat seorang lelaki dengan kain dibalutkan di sekeliling kepalanya.
"Kenapa, kepalamu dibalut kain?" tanya Rabi'ah.
"Karena kepalaku sakit," jawab lelaki itu.
"Berapa usiamu?," tanya Rabi'ah lagi.
" Tiga puluh tahun," lelaki itu menjawab.
"Apakah engkau merasakan sakit dan kesedihan di sebagian besar hidupmu?" tanya Rabi'ah.
"Tidak," jawab lelaki itu.
"Selama tiga puluh tahun engkau telah menikmati kesehatan yang baik," kata Rabi'ah, "namun engkau 'tidak pernah membalut dirimu dengan kain. Sekarang, karena satu malam ini engkau merasakan sakit kepala, engkau membalut dirimu dengan kain keluh kesah!".
Visitors :978 Org
Hits : 4126 hits
Month : 133 Users